RSS

THE GOSSEN LAW (HUKUM GOSSEN)

Hukum Gossen 1

Sebelum membahas lebih lanjut teori perilaku konsumen, coba Anda perhatikan orang yang sedang kehausan dan disediakan 5 gelas air. Apa yang dilakukan orang tersebut dengan 5 gelas air tersebut? Tentunya orang tersebut akan terus menerus meminumnya hingga dia merasa mendapatkan suatu kepuasan yang tinggi.

Menurut Anda apakah seseorang yang kehausan akan meminum semua gelas?
Jawaban Anda pasti tidak. Dengan demikian nilai kepuasan gelas pertama dengan gelas yang berikutnya memiliki nilai kepuasan yang berbeda. Hal ini oleh Hermann Henrich Gossen diungkapkan dalam Hukum Gossen I yang menyatakan “Jika pemenuhan suatu kebutuhan dilakukan secara terus menerus, maka kenikmatan atas pemenuhan itu semakin lama akan semakin berkurang hingga akhirnya dicapai titik kepuasan”.

Hukum Gossen I berlaku dengan syarat::
– benda yang dikonsumsi satu macam dan sejenis.
– pemenuhan berlangsung secara terus menerus, tanpa tenggang waktu.
Hukum Gossen I tidak berlaku apabila:
– benda yang dikonsumsi berbeda macam dan jenisnya.

- terdapat jarak waktu antara pemenuhan pertama dengan kedua dengan orang yang      berbeda-beda.

- tidak berlaku untuk benda-benda yang termasuk narkoba

Hukum Gossen 2

Dalam pemenuhan kebutuhan tentunya tidak semua orang hanya memenuhi satu kebutuhan saja. Misalkan Anda mempunyai uang sebesar Rp. 10.000,00. Apakah uang Anda akan dibelikan makanan seluruhnya? Tentunya Anda tidak akan menghabiskan uang Anda seluruhnya untuk membeli makanan. Sebagai seorang pelajar Anda akan menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan lainnya seperti membeli buku tulis, buku bacaan, alat tulis. Hal ini menunjukkan bahwa jika orang melakukan pemenuhan kebutuhan maka akan memperhatikan berbagai macam kebutuhan lainnya, dan berusaha mencapai kepuasan yang mendekati sama dari berbagai macam pemenuhan kebutuhan tersebut. Kecenderungan pemenuhan kebutuhan tersebut dituangkan dalam Hukum Gossen II yang menyatakan “Pada dasarnya manusia cenderung memenuhi berbagai macam kebutuhan sampai pada tingkat intensitas (tingkat kepuasan) yang sama”.

Untuk lebih memahami Hukum Gossen II ini, kita uraikan contoh uang Rp. 10.000,00 di atas. Misalkan dari uang Rp. 10.000,00 Anda gunakan untuk makan Rp. 3.500,00 dengan nilai kepuasan 7, untuk buku tulis dan alat tulis Rp. 4.000,00 dengan nilai kepuasan 6, untuk naik kendaraan Rp. 1.000,00 dengan nilai kepuasan 6,5 untuk buku bacaan Rp. 1.500,00 dengan nilai kepuasan 7.

Dari contoh di atas, Anda telah mengalokasikan uang secara rasional dan wajar, hingga masing-masing kebutuhan dapat dipenuhi dengan nilai kepuasan yang mendekati sama yaitu antara 6 sampai dengan 7.

 
 

THE LAW OF ECONOMIES OF SCALE (HUKUM SKALA EKONOMI)

Skala Ekonomis, dalam ilmu mikro ekonomi, merujuk kepada keuntungan biaya yang berhubungan dengan ekspansi usaha. Ada beberapa factor yang menyebabkan rata-rata biaya produksi per unit turun saat jumlah output meningkat. “Skala Ekonomis” adalah konsep lama dan merujuk pada pengurangan biaya per unit saat ukuran fasilitas dan tingkat penggunaan input lainnya meningkat. Skala non ekonomis adalah kebalikannya. Sumber –sumber umum skala ekonomi adalah pembelian (Sebagian besar membeli bahan melalui kontrak jangka panjang ), manajemen (meningkatkan spesialisasi manajer ), keuangan (memperoleh beban bunga yang lebih rendah saat meminjam dari bank dan memiliki akses ke berbagai instrumen keuangan yang lebih besar), pemasaran (mengalokasikan biaya iklan selama rentang yang lebih besar di pasar media output), dan teknologi (mengambil keuntungan dari hasil skala dalam fungsi produksi). Setiap factor ini mengurangi biaya rata-rata produksi jangka panjang ( LRAC ) dengan mengubah kurva biaya total rata-rata jangka pendek ( SRATC ) ke bawah dan ke kanan. Skala ekonomis ini  sebagian juga berasal dari belajar sambil melakukan.

Skala ekonomis adalah sebuah konsep praktis yang penting untuk menjelaskan fenomena dunia nyata seperti pola-pola perdagangan internasional, jumlah perusahaan di pasar, dan bagaimana perusahaan bisa “terlalu besar untuk gagal”. Pemanfaatan skala ekonomi membantu menjelaskan mengapa perusahaan tumbuh besar di beberapa industri. Ini juga merupakan pembenaran untuk kebijakan perdagangan bebas, karena beberapa skala ekonomi mungkin memerlukan pasar yang lebih besar daripada yang mungkin dalam suatu negara tertentu – misalnya, tidak akan efisien bagi pembuat Liechtenstein untuk memiliki mobil sendiri, jika mereka hanya akan menjual untuk pasar lokal mereka. Sebuah produsen mobil satunya mungkin menguntungkan, namun, jika mereka ekspor mobil untuk pasar global selain menjual ke pasar lokal. Skala ekonomi juga berperan dalam monopoli “alamiah.”

Monopoli Alami

Monopoli alami sering didefinisikan sebagai perusahaan yang menikmati skala ekonomis untuk ukuran perusahaan yang wajar, karena itu selalu lebih efisien bagi satu perusahaan untuk memperluas daripada mendirikan perusahaan baru, monopoli alami tidak memiliki saingan. Karena tidak memiliki saingan, maka kemungkinan monopoli memberikan kekuatan pasar yang signifikan. Oleh karena itu, beberapa industri yang dikategorikan sebagai monopoli alami telah diatur atau dimiliki oleh Negara.

Skala ekonomis dan Skala Hasil

Skala ekonomi terkait dengan betapa mudahnya menjadi bingung dengan gagasan ekonomi teoritis terhadap skala hasil. Di mana skala ekonomi mengacu pada biaya suatu perusahaan, skala hasil menggambarkan hubungan antara input dan output dalam jangka panjang (semua input variabel) fungsi produksi. Sebuah fungsi produksi memiliki skala hasil konstan jika proporsi peningkatan semua input dan output aadalah sama. Hasil akan mengalami penurunan jika, katakanlah, penggandaan hasil input kurang dari dua kali lipat output, dan meningkat jika input dua kali lipat lebih dari output. Jika fungsi matematika digunakan untuk mewakili fungsi produksi, dan jika fungsi produksi adalah homogen ( sama ), maka skala hasil  yang diwakili oleh tingkat homogenitas fungsi. fungsi produksi homogen  dengan skala hasil konstan adalah homogenitas tingkat pertama, peningkatan skala hasil yang diwakili oleh derajat homogenitas lebih besar dari satu, dan penurunan skala hasil dengan derajat homogenitas yang kurang dari satu.

Jika perusahaan merupakan pesaing sempurna di semua pasar input, dan dengan demikian harga unit per dari semua input tidak terpengaruh oleh berapa banyak masukan pembelian yang dilakukan perusahaan, maka dapat ditampilkan [2] [3] [4] bahwa pada tingkat output tertentu, perusahaan memiliki skala ekonomi jika dan hanya jika skala hasil meningkat, dan memiliki skala disekonomis jika dan hanya jika skala hasil mengalami penurunan, dan tidak memiliki skala ekonomi maupun disekonomis jika skala hasilnya konstan. Dalam hal ini, dengan persaingan sempurna di pasar output ekuilibrium jangka panjang, maka akan melibatkan semua perusahaan yang beroperasi pada titik minimum kurva jangka panjang mereka rata-rata biaya (yaitu, di perbatasan antara skala ekonomi dan skala disekonomis).

Namun, jika perusahaan pesaing tidak sempurna berada di pasar input, maka kesimpulan di atas berubah. Misalnya, jika kembali terjadi peningkatan skala hasil dalam beberapa rentang tingkat produksi, namun perusahaan nya begitu besar dalam satu atau lebih pasar input yang meningkatkan pembelian atas input yang meningkatkan biaya input per-unit, maka perusahaan bisa memiliki skala disekonomis di berbagai tingkat output. Sebaliknya, jika perusahaan mampu mendapatkan diskon besar dari pembelian input, maka ia bisa memiliki skala ekonomi dalam beberapa rentang tingkat output meskipun ia mengalami penurunan hasil produksi di rentang output.

 

THE DERIVED DEMAND PRINCIPLE (PRINSIP PERMINTAAN TURUNAN)

Permintaan turunan adalah sebuah istilah ekonomi, dimana permintahan terhadap suatu barang atau jasa yang muncul sebagai akibat dari permintaan terhadap barang lain. Hal ini dapat  muncul sebagai bagian dari lanjutan produksi ke dua. Sebagai contoh, permintaan terhadap batu bara mengarah pada peningkatan permintaan terhadap penambangan, karena batu bara harus di tambang terlebih dahulu untuk dapat dikonsumsi. Seiring dengan permintaan terhadap batu bara yang semakin meningkat, begitu pula dengan harganya. Peningkatan harga batu bara ini membuat permintaan yang lebih tinggi terhadap sumber daya yang dibutuhkan dalam penambangan batu bara. Dan oleh karena itu, maka

MRP = MPP * P

Dimana MRP adalah Pendapatan Marginal Produk, MPP adalah Produk Fisik Marginal, dan P adalah harga produk fisik.

Permintaan terhadap transportasi adalah contoh lain mengenai permintaan turunan, karena pengguna transportasi sangat sering mengunakan jasa ini bukan karena mendapat manfaat langsung konsumsi ini ( kecuali dalam kasus menggunakan layanan kapal pesiar ), tetapi karena mereka menggunakannya sebagai perantara untuk dapat menikmati konsumsi di tempat lain.

Permintaan turunan berkaitan terhadap konsumen dan produsen. Produsen memiliki permintaan turunan terhadap para pekerja. Dan bagi para pekerja, yang dibutuhkan dari mereka adalah kemampuan dan produktivitas.

Contoh lainnya adalah produksi dan permintaan terhadap pupuk. Petani membutuhkan pupuk untuk menyuburkan tanaman, yang merupakan sumber pendapatan utama petani. Karena itulah, untuk konsumsinya sendiri, petani membutuhkan pupuk. Dan permintaan produk turunannya adalah memproduksi pupuk.

Tiket adalah permintaan turunan dalam dunia hiburan. Hiburan adalah permintaan untuk merasa dihibur saat sebuah tiket dibeli, dan tiket ini adalah murni sebagai alat pemuas kebutuhan. Tiket bukanlah tujuannya. Tiket hanyalah alat resmi untuk menghadiri acara tertentu pada waktu dan tempat tertentu pula. Agen tiket hanyalah agen dari yang berwenang ( penyelenggara even ) yang diberikan wewenang untuk bertransaksi dengan pihak-pihak yang prospektif untuk menghadiri acara yang diadakan.

Saat penawaran untuk barang atau jasa tertentu meningkat, permintaan turunan bagi factor-faktor produksi yang dibutuhkan dalam memproduksi barang atau jasa inipun akan meningkat. Oleh karenanya, keadaan inipun memacu peningkatan harga bagi factor-faktor produksi dan kurva biaya rata-rata perusahaan yang muncul pada biaya-biaya variable ; seperti peningkatan upah. Namun sayangnya, saat penyediaan barang atau jasa menurun, maka permintaan turunan terhadap input produksipun akan ikut menurun. Hal ini menyebabkan harga factor-faktor produksi pun ikut menurun, begitu juga terhadap kurva biaya rata-rata perusahaan.

 

THE ROUND-ABOUT PRODUCTION (PERPUTARAN PRODUKSI)

Roundaboutness, atau metode perputaran produksi, adalah proses dimana barang modal dahulu yang yang diproduksi dan kemudian, dengan bantuan barang modal tersebut, barang konsumsi yang diinginkan diproduksi.

Istilah ini dirancang oleh ekonom Austria Sekolah Eugen von Bohm-Bawerk, yang menyatakan bahwa ini adalah permintaan konsumen, dan belum tentu merupakan pasokan tabungan, yang akan menentukan penanaman modal di setiap industri.

Ekonom Austria Eugen von Bohm-Bawerk berargumen terhadap teori harga tenaga kerja dari Ricardian dan teori Marx tentang eksploitasi. Sebelumnya, ia berpendapat bahwa pengembalian modal muncul dari perputaran produksi alamiah. Sebuah tangga baja, misalnya, akan diproduksi dan dibawa ke pasar hanya jika permintaan mendukung penggalian bijih besi, peleburan baja, mesin-mesin yang mencetak  baja menjadi bentuk tangga, mesin-mesin yang membuat dan membantu memelihara mesin-mesin produksi, dll. Para pendukung teori kerja menilai bahwa setiap langkah dalam proses tersebut, bagaimanapun perputarannya, pastilah melibatkan tenaga kerja. Tapi Bohm-Bawerk mengatakan bahwa yang mereka lewatkan adalah proses itu sendiri, perputaran, yang pastinya selalu melibatkan hitungan waktu.

Proses perputaran, menurut Bohm-Bawerk, menyebabkan harga yang dibayarkan melebihi  nilai dari tenaga kerja. Hal ini membuatnya menjadi tidak penting untuk mendalilkan eksploitasi dalam rangka memahami pengembalian modal, walaupun bagaimana panjang proses produksi dan menghasilkan nilai masih belum jelas, seolah-olah ide Bohm-Bawerk itu adalah benar, semakin perusahaan kapitalis tidak efisien maka semakin panjang proses produksi yang dilakukan dan laba nya pun akan bertambah. Padahal biaya tambahan yang terjadi melalui proses produksi yang tidak efisien, maka akan mencegah mereka menjual output dengan harga pasar. Alih-alih mendapatkan keuntungan lebih tinggi sehingga, yang terjadi malah sebaliknya.

Konsep ini memiliki kesamaan dengan teori Keynesian kemudian dikembangkan pada 1930-an

 

THE LOW OF SUPPLY AND DEMAND (HUKUM PENAWARAN DAN PERMINTAAN)

Teori penawaran dan permintaan (bahasa Inggrissupply and demand) dalam ilmu ekonomi, adalah penggambarkan atas hubungan-hubungan di pasar, antara para calon pembeli dan penjual dari suatu barangModel penawaran dan permintaan digunakan untuk menentukan harga dan kuantitas yang terjual di pasar. Model ini sangat penting untuk melakukan analisa ekonomi mikro terhadap perilaku para pembeli dan penjual, serta interaksi imereka di pasar. Ia juga digunakan sebagai titik tolak bagi berbagabi model dan teori ekonomi lainnya. Model ini memperkirakan bahwa dalam suatu pasar yang kompetitif, harga akan berfungsi sebagai penyeimbang antara kuantitas yang diminta oleh konsumen dan kuantitas yang ditawarkan oleh produsen, sehingga terciptalah keseimbangan ekonomi antara harga dan kuantitas. Model ini mengakomodasi kemungkian adanya faktor-faktor yang dapat mengubah keseimbangan, yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk terjadinya pergeseran dari permintaan atau penawaran.

Dalam ekonomi terdapat permintaan (demand) dan penawaran (supply) yang saling bertemu dan membentuk satu titik pertemuan dalam satuan harga dan kuantitas (jumlah barang). Setiap transaksi perdagangan pasti ada permintaan, penawaran, harga dan kuantitas yang saling mempengaruhi satu sama lain.

A. Pengertian/Arti Definisi Permintaan dan Penawaran

Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Sedangkan pengertian penawaran adalah sejumlah barang yang dijual atau ditawarkan pada suatu harga dan waktu tertentu.

Contoh permintaan adalah di pasar kebayoran lama yang bertindak sebagai permintaan adalah pembeli sedangkan penjual sebagai penawaran. Ketika terjadi transaksi antara pembeli dan penjual maka keduanya akan sepakat terjadi transaksi pada harga tertentu yang mungkin hasil dari tawar-menawar yang alot.

B. Hukum Permintaan dan Hukum Penawaran

Jika semua asumsi diabaikan (ceteris paribus) : Jika harga semakin murah maka permintaan atau pembeli akan semakin banyak dan sebaliknya. Jika harga semakin rendah/murah maka penawaran akan semakin sedikit dan sebaliknya.

Semua terjadi karena semua ingin mencari kepuasan (keuntungan) sebesar-besarnya dari harga yang ada. Apabila harga terlalu tinggi maka pembeli mungkin akan membeli sedikit karena uang yang dimiliki terbatas, namun bagi penjual dengan tingginya harga ia akan mencoba memperbanyak barang yang dijual atau diproduksi agar keuntungan yang didapat semakin besar. Harga yang tinggi juga bisa menyebabkan konsumen/pembeli akan mencari produk lain sebagai pengganti barang yang harganya mahal.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Permintaan (Demand)

1. Perilaku konsumen / selera konsumen
Saat ini handphone blackberry sedang trend dan banyak yang beli, tetapi beberapa tahun mendatang mungkin blackberry sudah dianggap kuno.

2. Ketersediaan dan harga barang sejenis pengganti dan pelengkap
Jika roti tawar tidak ada atau harganya sangat mahal maka meises, selai dan margarin akan turun permintaannya.

3. Pendapatan/penghasilan konsumen
Orang yang punya gaji dan tunjangan besar dia dapat membeli banyak barang yang dia inginkan, tetapi jika pendapatannya rendah maka seseorang mungkin akan mengirit pemakaian barang yang dibelinya agar jarang beli.

4. Perkiraan harga di masa depan
Barang yang harganya diperkirakan akan naik, maka orang akan menimbun atau membeli ketika harganya masih rendah misalnya seperti bbm/bensin.

5. Banyaknya/intensitas kebutuhan konsumen
Ketika flu burung dan flu babi sedang menggila, produk masker pelindung akan sangat laris. Pada bulan puasa (ramadhan) permintaan belewah, timun suri, cincau, sirup, es batu, kurma, dan lain sebagainya akan sangat tinggi dibandingkan bulan lainnya.

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Penawaran (Suply)

1. Biaya produksi dan teknologi yang digunakan
Jika biaya pembuatan/produksi suatu produk sangat tinggi maka produsen akan membuat produk lebih sedikit dengan harga jual yang mahal karena takut tidak mampu bersaing dengan produk sejenis dan produk tidak laku terjual. Dengan adanya teknologi canggih bisa menyebabkan pemangkasan biaya produksi sehingga memicu penurunan harga.

2. Tujuan Perusahaan
Perusahaan yang bertujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya (profit oriented) akan menjual produknya dengan marjin keuntungan yang besar sehingga harga jual jadi tinggi. Jika perusahaan ingin produknya laris dan menguasai pasar maka perusahaan menetapkan harga yang rendah dengan tingkat keuntungan yang rendah sehingga harga jual akan rendah untuk menarik minat konsumen.

3. Pajak
Pajak yang naik akan menyebabkan harga jual jadi lebih tinggi sehingga perusahan menawarkan lebih sedikit produk akibat permintaan konsumen yang turun.

4. Ketersediaan dan harga barang pengganti/pelengkap
Jika ada produk pesaing sejenis di pasar dengan harga yang murah maka konsumen akan ada yang beralih ke produk yang lebih murah sehingga terjadi penurunan permintaan, akhirnya penawaran pun dikurangi.

5. Prediksi / perkiraan harga di masa depan
Ketika harga jual akan naik di masa mendatang perusahaan akan mempersiapkan diri dengan memperbanyak output produksi dengan harapan bisa menawarkan/menjual lebih banyak ketika harga naik akibat berbagai faktor.

 

THE LAW OF DIMINISHING RETURN (HUKUM HASIL YANG MENURUN)

Dalam ekonomi, hasil yang semakin menurun ( juga disebut sebagai hasil tambahan yang semakin menurun ) merujuk pada bagaimana nilai penambahan produksi dari sebuah factor produksi mulai mengalami penurunan, saat factor produksi tersebut meningkat, berlawanan terhadap peningkatan yang seharusnya normal diharapkan. Berdasarkan hubungan ini, dalam sebuah system produksi dengan input-input tetap dan variabel, ( seperti ukuran pabrik dan jumah tenaga kerja ), setiap  tambahan unit faktor produksi variabel (yaitu, orang-jam) menghasilkan peningkatan yang semakin mengecil  pada output, yang berarti juga mengurangi produktivitas setiap pekerja. Sebaliknya, memproduksi satu unit output  membutuhkan biaya yang lebih besar (karena jumlah input variabel utama yang digunakan, pengaruhnya sangat kecil).

Konsep ini juga dikenal sebagai Hukum Hasil Tambahan Yang Semakin Menurun atau Hukum Peningkatan Biaya Relatif.

Pernyataan Hukum

Hukum hasil yang semakin menurun di deskripsikan sebagai salah satu hukum terkenal dalam bidang ekonomi. Pada kenyataannya, hukum ini berpusat pada teori produksi, salah satu dari dua bidang utama dalam teori mikro ekonomi neo klasik. Hukum ini menyatakan “Bahwa kita akan semakin mengalami penurunan ekstra output/hasil saat kita terus menambahkan satu input produksi, sementara factor produksi yang lain tetap. Dengan kata lain, tambahan / marginal produksi untuk setiap unit input akan menurun seiring dengan peningkatan jumlah input tertentu sementara input ( factor produksi ) lain tetap.”  Penjelasan ini menjelaskan dengan gamblang mengapa hukum ini terbukti benar terhadap beberapa masalah.

Hasil yang semakin menurun dan hasil tambahan yang semakin menurun bukanlah hal yang sama. Hasil tambahan yang semakin menurun ditunjukkan pada kurva MPL yang menurun. Output/hasil nya bisa negative ataupun positif. Hasil yang semakin menurun adalah tenaga kerja tambahan menyebabkan penurunan output/hasil yang berarti bahwa MPL bernilai negative. Dengan kata lain, perubahan dalam input tenaga kerja per unit adalah negatif dan menyebabkan total ouput menjadi menurun.

Sejarah

Konsep hasil yang semakin menurun ini dapat ditelusuri dari kekhawatiran dari para ekonomis terdahulu, seperti Johann Heinrich Von Thunen, Turgot, Thomas Mathus dan David Ricardo. Namun, para ekonom klasik seperti Malthus dan Ricardo dikaitkan terhadap penurunan berturut-turut terhadap output terhadap penurunan kualitas input produksi. Ekonom Neo klasik berpendapat bahwa setiap “unit” dari tenaga kerja adalah identik = homogeny sempurna. Hasil yang semakin berkurang berhubungan dengan gangguan dari keseluruhan proses produktif sebagai tambahan unit tenaga kerja yang ditambahkan ke jumlah modal tetap.

Karl Marx mengembangkan versi hasil yang semakin berkurang dalam teorinya “Kecenderungan Penurunan Laba” yang dijabarkan dalamVolume III Capital.

Contoh

Misalkan 1 kg bibit ditebarkan pada sebuah lahan yang memproduksi tetap 1 ton panenan. Anda mungkin berharap bahwa tambahan 1 kg bibit akan menambah hasil panenan. Namun, jika telah terjadi nilai tambah yang semakin menurun, maka tambahan 1 kg bibit tadi akan menghasilkan kurang dari 1 ton tambahan panenan ( cateris paribus ). Sebagai contoh, tambahan 1 kg bibit yang kedua, mungkin hanya akan menghasilkan ½  ton tambahan output/panenan. Nilai tambah yang semakin berkurang juga berlaku pada tambahan 1 kg bibit yang ketiga, yang bahkan hanya akan menghasilkan kurang dari ½ ton tambahan panenan, anggaplah ¼ ton.

Dalam ilmu ekonomi, istilah “marginal” digunakan untuk menjelaskan batas produktivitas dalam sebuah system produksi. Perbedaan dalam penambahan bibit dalam 3 skenario diatas adalah 1 kg – “tambahan marginal bibit adalah 1 kg.” Dan perbedaan hasil panenannya, adalah 1 ton untuk 1 kg bibit yang pertama, ½ ton panenan untuk 1 kg bibit yang kedua, dan ¼ ton panenan untuk 1 kg bibit yang ketiga. Dengan demikian, produk fisik marginal (MPP) benih akan jatuh seiring dengan  meningkatnya jumlah bibit yang ditanam. Dalam contoh ini, produk marjinal (atau penurunan) sama dengan jumlah tambahan  panenan yang dihasilkan dibagi dengan jumlah tambahan benih yang ditanam.

Sebagai akibat dari hasil tambahan yang semakin berkurang adalah bahwa saat total penambahan bibit  meningkat, maka total pengembalian investasi/penambahan yang merupakan proporsi dari total investasi ( rata-rata produk atau hasil ) menurun. Hasil dari penambahan 1 kg yg pertama adalah 1 ton/1 kg. Total hasil saat 1 kg bibit yang ke dua ditambahkan adalah 1.5 ton/2 kg = 0.75 ton/kg, sedangkan total hasil saat 1 kg bibit yang ketiga ditambahkan adalah 1.75 ton/3 kg = 0.58 ton/kg.

Contoh lainnya adalah sebuah pabrik yang memiliki  jumlah modal yang tetap, atau peralatan dan mesin, dan penawaran variable tenaga kerja. Saat perusahaan meningkatkan jumlah pekerja, hasil total perusahaan meningkat namun, jumlah peningkatannya selalu menurun. Hal ini disebabkan, setelah titik tertentu, pabrk menjadi terlalu sesak dan pekerja mulai mengantri untuk menggunakan mesin-mesin. Solusi jangka panjang bagi masalah ini adalah meningkatkan modal tetap perusahaan, seperti membeli mesin-mesin baru dan membangun lebih banyak pabrik.

Hasil dan Biaya

Terdapat hubungan terbalik antara tingkat pengembalian input dan biaya produksi. Misalkan bahwa 1 kg bibit berharga 1 dollar, dan harga ini tidak berubah ; meskipun ada biaya-biaya lain, anggaplah bahwa biaya2 ini tidak mempengaruhi jumlah ouput/hasil dan  merupakan biaya tetap. 1 kg bibit menghasilkan 1 ton panenan, sehingga 1 ton pertama berbiaya 1 dollar untuk memproduksinya. Karena itu, untuk 1 ton panenan pertama, biaya marginal ( MC) nya adalah $1 /ton. Jika tidak perubahan dalam factor produksi lain, maka 1 kg bibit yang kedua yang ditambahkan ke lahan hanya menghasilkan ½ dari hasil yang pertama, maka MC = $1 per ½ ton hasil, atau  $2 per 1 ton. Hal yang sama terjadi, jika 1 kg yang ketiga ditambahkan, hanya mengahasilkan tambahan ¼ ton, maka MC = $1 per ¼ ton atau $4 per ton. Dengan demikian, hasil marginal yang semakin menurun mengakibatkan peningkatan biaya marginal. Hal ini juga mengakibatkan pada meningkatkan biaya rata-rata. Dalam contoh angka-angka, biaya rata2 naik dari $1 per ton, menjadi $2 per 1.5, dan kemudian menjadi $3 untuk 1.75 ton, atau sekitar 1 hingga 1.3 hingga 1.7 dolar per ton.

Dalam contoh ini, biaya marginal sama dengan tambahan jumlah uang yang dibelanjakan untuk bibit dibagi dengan tambahan jumlah hasil panenan, sementara biaya rata-rata adalag jumlah total uang yang dibelanjakan untuk bibit dibagi dengan jumlah total hasil panenan.

Biaya juga dapat disebutkan dengan istilah biaya kesempatan. Dalam hal ini, hukum juga berlaku terhadap masyarakat ; biaya kesempatan untuk memproduksi satu unit baraang secara umum bertambah saat masyarakat mengusahakan untuk memproduksi lebih banyak barang. Hal ini menjelaskan penyimpangan dari batas kemungkinan produksi.

Pengukuran Hasil

Hasil marginal dibahas dengan melihat pada kasus ketika hanya satu dari banyak input mengalami peningkatan ( sebagai contoh, jumlah bibit yang meningkat, namun jumlah lahan tetap ). Jika semua input / factor produksi meningkat, maka peningkatan hasilnya akan tetap.

Saat sebuah perusahaan dalam jangka panjang meningkatkan jumlah semua factor produksi, maka semuanya akan menjadi seimbang, awalnya laju peningkatan output mungkin lebih cepat daripada laju peningkatan input, lalu kemudian output dapat meningkat dalam proporsi yang sama sebagai input, maka akhirnya, output akan meningkat kurang proporsional dari input.

 

EKONOMI SYARIAH SOLUSI MASALAH PEREKONOMIAN UMMAT

Diagnosa sejarah telah membuktikan, bahwa dua sistem (kapitalisme dan sosialisme) yang selama ini mewarnai dinamika ekonomi dunia telah gagal mencapai cita-citanya. Sosialisme turun dari pentas perekonomian dunia seiring runtuhnya perekonomian di Unisoviet dan Eropa Timur disebabkan oleh pembentukan watak ekonomi yang kontradiktif dan tidak adil. Sejak itu, doktrin kapitalisme dengan karakteristik liberalnya tampil gagah dengan diiringi sorak kemenangan pendukungnya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, benarkah kapitalisme telah sukses mengatasi kegagalan kontradiktif dan ketidakadilan sosialisme? Benarkah kemenangan tersebut merupakan puncak keberhasilan system kapitalis dalam membangun tatanan masyarakat sejahtera di atas pijakan keadilan? Jawabannya tidak. Sebuah realitas yang tak bisa terbantahkan, bahwa system kapitalis tidak konsisten dalam memperjuangkan ekonomi yang berkeadilan. Paham liberal ( kebebasan ) yang dianut oleh kapitalisme telah membentuk mekanisme konglomerasi dan monopoli kekayaan pada kalangan bermodal. Akibatnya, secara transparan telah terbentuk sebuah tatanan hidup yang memberi manusia kebebasan yang teramat luas dalam perjalanannya menuju kemakmuran. Bahkan demikian bebasnya, hingga menggelincirkan dan menyesatkan hakikat manusia itu sendiri. Moralitas dan perikemanusiaan disingkirkan oleh alasan kebebasan. Harta yang dikuasai, mesin yang dimiliki, sumber daya alam yang dieksploitasi, laksana hamba yang harus menurut pada dirinya. Membuai manusia hingga lupa hubungan antar manusia dalam garis horizontal, manusia dengan lingkungan dalam garis diagonal frontal, serta hubungan dengan Tuhan dalam garis vertikal. Karakter kerakusan individu telah terbentuk sempurna oleh sistem kapitalisme. Atas kenyataan tersebut, masih adakah alasan yang dapat membuat kita percaya dan tetap setia terhadap system kapitalisme dan sosialisme? Bagi bangsa Indonesia, krisis multidimensional (krisis moneter dan ekonomi) yang terjadi pada pertengahan tahun 1997, seyogyanya dipandang sebagai anugerah Allah dan pelajaran yang amat berharga. Karena krisis tersebut telah membuat kita sadar sebagai bangsa dengan jumlah hutang tak berbilang. Sungguh sebuah ironi bagi bangsa yang dikaruniai kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan ditaburi jutaan mutiara anugerah Allah. Kenyataan di atas memaksa kita untuk cermat dalam mendiagnosa segala penyakit yang menjangkiti bangsa ini. Sejarah telah memberi pelajaran berharga, dan sejarah pula yang mengajak kita untuk melakukan pencarian terhadap rancang bangun system ekonomi yang dapat menawarkan solusi terhadap semua masalah perekonomian ummat sekaligus mampu memenuhi semua unsur yang diperlukan untuk kesejahteraan manusia. Tentu saja berazazkan ketauhidan serta berpijak pada tuntunan persaudaraan dan keadilan sosial ekonomi. Beberapa dasawarsa terakhir, para pemikir muslim telah merumuskan suatu system ekonomi yang diberi nama ‘Ekonomi Syariah’. Sistem ini berdasar pada nilai ke-Ilahi-an dan kemanusiaan yang digali dari sumber hukum syar’i yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Hakikat Ekonomi Syariah dibangun diatas beberapa prinsip dasar, yaitu : 1. Ekonomi Syariah memandang segala sumber daya sebagai pemberian atau titipan Allah kepada manusia yang harus dimanfaatkan seefisien dan seoptimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan manusia guna mewujudkan kesejahteraan bersama sebagai bentuk pemakmuran bumi. 2. Ekonomi syariah menghargai kepemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu karena bersifat tidak mutlak dan dibatasi oleh kepentingan masyarakat. Kekayaan pribadi dihargai sebagai amanah suci yang harus dinikmati dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama terutama kaum fakir miskin dan kaum yang membutuhkan. 3. Ekonomi Syariah menolak (tidak membenarkan) pendapatan yang diperoleh secara tidak halal menurut syari’at. 4. Ekonomi Syariah menjadi penggerak utama kerjasama 5. Ekonomi Syariah menolak segala macam bentuk eksploitasi yang selalu mengejar keuntungan maksimum. Pengembangan Ekonomi Syariah tidak hanya bergulat dalam tatanan teoritik saja, tetapi lebih maju pada tataran implementasi melalui pengembangan dan penguatan lembaga-lembaga ekonomi seperti perbankan syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, obligasi syariah, reksadana syariah serta berbagai lembaga kerjasama ekonomi lainnya. Dalam prakteknya, lembaga perekonomian syariah minimal harus menganut 4 nilai, yaitu : 1. Nilai Shiddiq, yakni menghendaki adanya pengelolaan ekonomi dengan moralitas yang menjunjung tinggi kejujuran. 2. Nilai Tabligh, yakni menghendaki penyampaian tentang berbagai hal dengan benar dan objektif. Hal ini sekaligus sebagai proses edukasi masyarakat 3. Nilai Amanah, yakni menghendaki adanya rasa saling percaya antara para pelaku ekonomi guna mendorong terbentuknya iklim kerjasama yang harmonis. 4. Nilai Fathanah, yakni menghendaki pengelolaan secara professional dengan penuh kecermatan dan kesantunan, hingga dapat menuai hasil yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara professional pula. Pengembangan lembaga ekonomi syariah di Indonesia tidak semata hanya merupakan konsekuensi dari lahirnya UU. No. 10/1998 dan UU. No. 23/1999, tetapi merupakan bagian dari upaya penyehatan sistem perbankan nasional yang bertujuan meningkatkan daya tahan perekonomian bangsa Indonesia. Sejarah membuktikan, bahwa pada pertengahan tahun 1997 ketika bangsa ini dicabik oleh krisis ekonomi, sejumlah perbankan nasional dinyatakan tidak sehat (sakit) bahkan beberapa diantaranya harus menjalani opname dan amputasi di sana sini (penghapusan dan merger). Akan tetapi perbankan dengan prinsip syari’ah dinyatakan sehat dan memiliki imunitas yang cukup tinggi dalam menghadapi gejolak nilai tukar rupiah dan melambungnya tingkat suku bunga. Kenyataan tersebut merupakan buah dari karakteristik ekonomi syariah yang tidak menerapkan bunga, menjauhi spekulatif serta transaksi yang tidak transparan. Ekonomi syariah mendapat dukungan dan respon positif dari berbagai kalangan. Majelis Ulama Indonesia turut menunjang operasional ekonomi syariah melalui beberapa fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional. Aparat Negara pun tidak tinggal diam, atas inisiatif DPR telah lahir Rancangan Undang-Undang yang kemudian disahkan menjadi UU No. 3 Tahun 2006 sebagai perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. UU ini telah meletakkan amanah dan tanggung jawab baru di lingkungan Peradilan Agama, diantaranya kewenangan menyelesaikan perkara dan sengketa yang terjadi dalam operasional ekonomi syariah. Berbagai terobosan telah dilakukan oleh Mahkamah Agung dalam menindaklanjuti UU ini, seperti menyediakan tenaga hakim yang handal, menyiapkan yurisprudensi tentang ekonomi syariah serta berbagai persiapan lainnya yang dipandang perlu dalam penyelesaian perkara/sengketa ekonomi syariah. Kalangan ulama mengusulkan agar segera disusun Kompilasi Hukum Mu’amalah Syariah untuk mencegah terjadinya disparitas putusan Hakim pada Peradilan Agama. Dalam perjalanannya, ekonomi syari’ah akan terus berbenah diri untuk siap tampil sebagai sebuah sistem ekonomi paripurna dan akan menjadi solusi terbaik dalam menjawab persoalan perekonomian ummat, sekaligus merambah jalan menuju tatanan perekonomian berkeadilan.

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.