RSS

Arsip Kategori: TAFSIR TARBAWI ; KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR

KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR

I. SURAH  AL-‘ALAQ  : 1-5

TERJEMAH :

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

PENJELASAN BEBERAPA KOSA KATA

: Merupakan bentuk fi’l ul-amr (perintah), ia berasal dari akar kata qara’a yang pada awalnya mengandung arti meng­himpun. Dari akar kata tersebut muncul beberapa makna berikut: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu – semuanya ber­muara pada arti menghimpun.

: Darah yang membeku dan menggantung.

: Kemuliaan

: Berasal dari akar kata qalama yang mengandung arti memotong ujung sesuatu. Hal ini dapat dimengerti, sebab pada awalnya alat menulis (qalam) itu terbuat dari suatu bahan yang dipotong dan diperuncing ujungnya.

PENJELASAN

Sebagaimana tercatat dalam buku Sirah Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad melakukan kontemplasi ketika mulai menginjak usia 36 tahun. Nabi mulai melakukan kontemplasi pada saat melihat tatanan masyarakat di sekitarnya yang sudah rusak, manusia terasing dengan kemanusiaannya. Beliau melakukan kontemplasi bukan sekadar mengasingkan diri, tetapi mempunyai tujuan untuk mencari solusi bagaimana mengubah tatanan masyarakat. Di samping itu, beliau melakukan prosesi pencarian kebenaran secara tulus tanpa terbelenggu oleh pembatasan yang kita ciptakan sendiri. Pencarian ini tidak mungkin dilakukan dalam semangat komunal dan sektarian. Ia harus bebas dari setiap kemungkinan pengekangan ruhani (sikap alami manusia yang memihak kepada yang benar dan yang baik, dengan lapang dada, toleran, dan tanpa kefanatikan sebagai kelanjutan fitrahnya yang suci).

Pada saat Muhammad mencari kebenaran, beliau memulainya dengan cara penyucian jiwa. Muhammad menyadari bahwa dengan melakukan upaya penyucian jiwa akan memudahkan dalam menemukan pencerahan batin. Kenyataan tersebut telah menjadikan dirinya siap melakukan komunikasi rahasia dengan malaikat Jibril. Dalam beberapa hadits dikisahkan bahwa nabi sering bermimpi sebelum mendapat wahyu pertama. Hal tersebut merupakan sinyal-sinyal ilahiyah akan turunnya wahyu melalui malaikat Jibril, hingga akhirnya nabi mampu menangkap pe­nampakan Jibril, sebagaimana digambarkan dalam surah an-Najm. Jika Muhammad langsung me­nerima wahyu, kemungkinan besar beliau tidak mampu menangkap sinyal-sinyal Ilahi secara sempurna. Kenyataan tersebut sekaligus sebagai petunjuk bagi pengikut Nabi Muhammad agar senantiasa melakukan upaya penyucian jiwa, hingga ia mampu menangkap sinyal-sinyal Ilahi dalam bentuk ilham.

Ketika usia Nabi menginjak 40 tahun, seperti biasa beliau melakukan kontemplasi di Gua Hira. Beliau dikagetkan oleh kedatangan Jibril yang tiba-tiba menyuruhnya untuk membaca. Kalau kita merenung sejenak, bukankah Nabi saat itu berada di Gua Hira dan waktu malam? Sudah dapat dipastikan suasananya pastilah gelap—gulita. Tetapi mengapa Jibril menyuruh Nabi membaca? Apakah Jibril membawa bacaan yang tertulis dalam secarik kertas? Dapatkah beliau membaca sesuatu dalam keadaan gelap gulita?

Akhirnya terjadi tarik-ulur antara Jibril dan Muhammad, dan me­nurut riwayat kejadian tersebut berulang hingga tiga kali. karena Jibril mengerti kondisi Muhammad, perintah dan pelukannya itu sebagai upaya agar Muhammad dapat menenangkan diri dan tidak merasa ragu akan apa yang bakal diterimanya. Sebab kalau ia langsung diajari surah al-‘Alaq, Muhammad akan merasa ragu kalau itu berasal dari Tuhan, atau malah akan menganggap dirinya dalam keadaan tidak sadar atau hanya sebagai mimpi belaka.

Dengan demikian prosesi tarik-ulur itu bertujuan agar Nabi betul-betul menyadari bahwa la sedang berhadapan dengan utusan Tuhan, yang mengabarinya tentang kenabian, la tidak dalam keadaan bermimpi.

Ayat pertama dari wahyu pertama adalah “Bacalah dengan nama Tuhanmu,” tentu akan muncul pertanyaan “apa yang harus dibaca?” Ditinjau dari prespektif kebahasaan, jika satu ungkapan tidak di­sebutkan obyeknya, maka ia menunjukkan umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, seperti alam raya dan masyarakat. Dengan demikian, Tuhan me­nyuruh Nabi agar membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (qur’aniyyah) ataupun ayat-ayat yang tercipta (qauniyyah). Tetapi yang paling penting dan menjadi titik tekan ayat tersebut adalah pembacaan ter­sebut haruslah dilandasi atas nama Tuhan, Dengan pembacaan itu menjadikan beliau sadar akan kefakiran diri di hadapan Allah.

Apabila ayat tersebut dihubungkan dengan ayat kedua, tampak bahwa yang harus dibaca Nabi pada khususnya dan manusia pada umumnya adalah diri sendiri: “Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Secara tersirat, ayat kedua ini menuntut ma­nusia agar membaca dirinya, sehingga muncul kembali pertanyaan abadi yang ter­kadang sudah dilupakan manusia, yaitu siapakah, dari manakah, hendak ke mana aku? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang jika direnungkan terus-menerus akan melahirkan kesadaran kehambaan seseorang.

Pada ayat selanjutnya, Tuhan menyatakan, “Bacalah, dan Tuhan­mu yang Mahamulia”. Menurut Ash-Shabuni, pengulangan kata iqra’ berfungsi untuk memberikan semangat terhadap aktivitas membaca pengetahuan. Senada dengan pendapat tersebut, Wahbah menyebutkan bahwa pengulangan tersebut sebagai penegasan terhadap arti pentingnya membaca. Sementara itu, menurut Quraish Shihab, iqra’ pada ayat ini menunjukkan konsekuensi logis dari iqra’ pada ayat pertama. Artinya, kemuliaan Tuhan akan segera tercurahkan bagi siapa saja yang sudah melakukan pembacaan terhadap dirinya, baik melalui ayat qur’aniyyah dan ayat qauniyyah.

Di samping kata iqra’ yang terulang dua kali, kata insan pun terulang dua kali. Pertama, manusia dalam kontek berhadapan dengan Tuhan, sebagai makhluk yang diciptakan, yakni diciptakan dari segumpal darah. Kedua, manusia sebagai makhluk yang menerima pelajaran, yang memperoleh pengetahuan, dengan perantaraan suatu alat (qalam). Ayat terakhir menyebut satu proses perpindahan dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Dalam hal ini, tampak satu pengingatan kesadaran bahwa manusia bukan hanya sekadar makhluk biologis, tetapi juga makhluk makhluk ruhani (ma­khluk yang harus mengejewantahkan nama-nama Tuhan dalam pentas kehidupannya).

Adapun kemuliaan yang akan didapat oleh manusia yang melakukan pembacaan tersebut dapat terwujud dalam dua bentuk, yakni Allah akan mengajarkan kepadanya al-qalam yang termaktub pada ayat 4 dan Allah akan mengajarkan kepadanya sesuatu yang tidak diketahui manusia, yang termaktub pada ayat 5.

REFLEKSI

Jika lima ayat pada surah ini dikaitkan dengan pendidikan, maka terdapat beberapa titik temu sebagai berikut:

Pertama, dalam kontek ini, Muhammad berperan sebagai seorang murid, sebab beliau adalah orang yang mencari sesuatu petunjuk dengan jalan kontemplasi dan semangat yang tinggi. Dari sini dapat ditarik satu kesimpulan bahwa seharusnya seorang murid mempunyai semangat mencari ilmu dan mengawalinya dengan upaya penyucian jiwa, sehingga muncul dalam dirinya sikap tawadhu yang akan memudahkan dirinya dalam pembelajaran.

Kedua, malaikat yang dalam kontek surah ini berperan sebagai asisten Allah (guru), tidak serta merta memberikan pengajaran kepada Muhammad, tetapi ia terlebih dahulu memberikan per­tanyaan dengan tujuan agar beliau betul-betul menyadari bahwa dirinya dalam keadaan terjaga. Sehingga ketika menerima pengajaran tersebut la akan merasa yakin bahwa apa yang diterimanya merupakan kebenaran. Jika dikaitkan dengan pendidikan, dari sini terlihat bahwa inti dari peristiwa tersebut adalah menuntut agar seorang guru tidak secara langsung memberikan pengajaran kepada murid. Terlebih dahulu guru harus mencairkan suasana sehingga memudahkan murid dalam mencerna pelajaran yang disampaikan seorang guru.

Ketiga, dalam lima ayat dari surah al-‘Alaq terdapat empat hal yang bisa dijadikan pijakan dalam pembelajaran. Keempat hal tersebut adalah:

  • Pada tahap awal, pelajaran yang harus disampaikan adalah hal-­hal yang bersifat indrawi (aladzi khalaq).
  • Setelah anak didik mengetahui hal-hal yang bersifat indrawi, pembelajarannya harus ditingkatkan kepada masalah-masalah yang bersifat abstrak dan spiritual (khalaq al-insan).
  • Setelah anak didik mampu menguasai kedua hal tersebut, maka langkah berikutnya adalah proses pembelajaran yang berujung pada kemampuan menuliskan gagasan. Sebab, apa yang dipahami, baik yang kasat mata atau yang tak kasat mata, ia kurang begitu berkaitan kalau tidak dituangkan dalam bentuk tulisan yang akan menjadi khazanah keilmuan (‘allama bil-qalam).
  • Setelah tiga tahapan terlewati, maka tahap akhir adalah pembelajaran yang berkaitan dengan upaya-upaya yang akan meningkatkan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan secara langsung dari Allah (‘allam al-insana ma lam ya’lam).

II. SURAH AL-MUDDATSTSIR : 1 – 7

TERJEMAH

1.  Hai orang yang berselimut,

2.  Bangunlah, lalu berilah peringatan,

3.  Dan Tuhanmu agungkanlah,

4.  Dan pakaianmu bersihkanlah,

5.  Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,

6.  Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang

lebih banyak.

  1. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

PENJELASAN BEBERAPA KOSA KATA

: Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad yang mengenakan selimut

: Bangunlah dari pembaringanmu dengan bersemangat dan bersungguh-sungguh.

: Berikanlah peringatan terhadap orang-orang Makkah

: Agungkanlah dan muliakanlah

: Sucikanlah pakaianmu dari berbagai najis

ASBAB AN-NUZUL

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika aku telah selesai uzlah selama satu bulan di Gua Hira, aku turun ke lembah. Ketika aku sampai di lembah tersebut, terdengar ada yang memanggilku, namun aku samasekali tidak melihat ada orang di sekitar daerah tersebut, sehingga akhirnya aku menengadahkan kepala ke langit. Dan tiba-tiba mataku melihat malaikat yang pernah aku lihat di Gua Hira. Saking kaget­nya aku pun segera pulang ke rumah dan meminta agar istriku menyelimutiku. ‘Selimutilah-selimutilah’.” Maka turunlah ayat 1-2 sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Al Walid bin al-Mughirah membuat makanan untuk kaum Quraisy. Ketika mereka sedang makan-makan, Al Walid berkata kepada kawan-kawannya: “nama apa yang patut kalian berikan kepada orang seperti ini (Muhammad)?” Salah seorang di antara mereka berkata, “Ia pantas dikatakan tukang sihir.” Namun yang lainnya berkata, “la bukanlah tukang sihir.” Kemudian yang lainnya berpendapat bahwa Muhammad itu tukang tenung. Hal ini pun dibantah oleh sebagian di antara mereka dengan menyatakan bahwa Muhammad bukanlah tukang tenung, sehingga yang lainnya berpendapat bahwa Muhammad itu adalah penyair. Pendapat ini pun mendapat sanggahan dari yang lainnya. Semua pembicaraan tersebut sampai ke telinga Nabi, sehingga beliau merasa sedih serta berselimut, maka Allah menurunkan surah Al-Muddatstsir ayat 1-7 sebagai perintah untuk berdakwah.

PENJELASAN

Seruan terhadap Nabi dengan menggunakan al-mudatstsir tidak menyebut nama “ya muhammad” menunjukkan kasih sayang dan keibaan Allah kepada yang diseru. Adapun seruan itu bertujuan agar Nabi segera bangun untuk mencapai cita-cita dan harapannya dengan memberikan peringatan kepada manusia. Diketahui bahwa yang menjadi harapan dan cita-cita Muhammad untuk mengubah masyarakatnya tidak akan pernah terwujud hanya dengan berselimut. Ia menuntut adanya langkah-langkah kongkrit yang tepat, yang dalam ayat di atas dikatakan dengan memberikan peringatan.

Isi peringatan tersebut termaktub pada ayat selanjutnya, yakni mengagungkan dan memuliakan Allah sebagai pemelihara manusia. Rasulullah pada khususnya dan umat manusia pada umumnya dituntut untuk mensucikan bajunya, baik yang bersifat lahir dan maupun yang bersifat batin: mensucikan diri dan hati dari berbagai belenggu kemusyrikan, sehingga ayat tersebut juga dapat bermakna “mensucikan hati dari dosa dan kemaksiatan.”

Pada ayat ke-5 Nabi diperintahkan agar sekali-kali tidak melakukan penyembahan pada selain Allah. Ayat tersebut menyampaikan pesan agar Nabi menjauhi kebodohan dan segala hal yang jelek, tidak berakhlak­ seperti orang-orang musyrik yang begitu senang dalam kehidupan yang tidak beradab.

Setelah mengingatkan agar tidak menyembah selain Allah, pada ayat ke-6 Allah mengingatkan Nabi agar tidak memberi sesuatu dengan harapan mendapat imbalan lebih besar dari kadarnya dan seraya bersabar pada Tuhan. Quraish Shihab meng­artikan sabar dalam ayat ini dengan menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginan demi mencapai sesuatu yang baik atau yang lebih baik. Sabar bukanlah kelemahan atau menerima apa adanya, tetapi merupakan perjuangan yang menggambarkan kekuatan jiwa pelakunya sehingga mampu mengalahkan keinginan hawa nafsunya.

REFLEKSI

Pada ayat pertama terlihat bahwa Allah sebagai pendidik bagi Nabi senantiasa menyeru dengan ungkapan yang menyiratkan cinta-kasih, yang secara tidak langsung menggingatkan kepada Nabi agar dalam melakukan seruan tersebut dengan cinta-kasih. Dalam dunia pendidikan, kasih-sayang dalam bentuk keakraban dan kedekatan antara seorang pendidik dan peserta didik sangat diperlukan, sebagai bukti kecintaan dan pengakuan pendidik atas peserta didiknya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi, “Sesungguhnya saya dan kamu laksana bapak dari anak.” Di tempat lain Nabi pernah bersabda, “Tidaklah beriman jika kamu tidak mengasihi saudaramu sebagaimana kamu mengasihi diri sendiri”.

Di samping itu, Nabi diseru dengan orang yang berselimut. Dalam hal ini, ketika seseorang berselimut, maka keberadaanya menjadi tidak tampak, padahal sesungguhnya ia berada di balik selimut yang dikenakannya. Kalau demikian adanya, maka Nabi berselimut karena ia merasa ragu untuk menampakkan diri. Kenyataan ini bisa diartikan bahwa sesungguhnya Nabi sudah tahu potensi yang dimilikinya, namun beliau masih merasa ragu untuk memperlihatkan potensi tersebut. Jika dikaitkan dengan pendidikan, hal ini bisa dikenakan kepada mereka yang memiliki potensi untuk menjadi guru, namun ia masih merasa ragu akan kemampuan yang dimilikinya.

Pada ayat kedua Allah menyeru Muhammad untuk bangkit, yang secara langsung menuntut seorang calon pendidik untuk memiliki rasa percaya diri, berani, bersemangat, sungguh-sungguh dan pantang menyerah dalam memberikan peringatan dan melaksanakaan tugasnya sebagai pendidik. Dengan kata lain, seorang pendidik harus sungguh-sungguh dan rajin serta tetap memiliki semangat dan tidak mudah menyerah dalam melaksanakan tugasnya.

Kepercayaan diri dan semangat harus diaplikasikan dengan berusaha terus-menerus menambah wawasan dan pengetahuannya. Merupakan suatu keniscayaan bahwa dalam proses mendidik ia akan dihadapkan pada berbagai persoalan yang tidak pernah ditemukan dalam bangku kuliah, sehingga menuntut dirinya untuk senantiasa mengembangkan keterampilan.

Pada ayat ketiga, Allah mengingatkan Muhammad untuk bersikap rendah hati, sebab pengetahuan yang ia miliki dan kuasai hanyalah setetes air di tengah samudera. Oleh sebab itu Allah meletakkan rabb lebih awal daripada kata fakabbir, yang bermakna bahwa kebesaran hanya milik Allah. Secara tersirat, hal ini menunjukkan bahwa seorang calon pendidik dituntut agar tidak merasa paling unggul, paling pintar, paling menguasai dan sifat sombong lainnya. Dengan perasaan sombong akan menjadikan dirinya merasa puas terhadap apa yang selama ini ia peroleh. Lain halnya ketika seseorang merasa diri kurang, yang muncul dalam benak pikirannya adalah bagaimana agar memperoleh tambahan skil, ilmu pengetahuan dan wawasan.

Pada ayat keempat, Allah mengingatkan Muhammad agar membersihkan pakaian, baik pakaian lahir maupun pakaian batin. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa penampilan lahir bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik. Menurut Al-Ghazali perbuatan, perilaku dan kepribadian seorang pendidik adalah lebih penting dari ilmu pengetahuan yang ia miliki, karena kepribadian seorang pendidik akan diteladani dan ditiru oleh peserta didik, baik itu disengaja atau tidak.

Ayat ke-6 mengisyaratkan bahwa seorang pendidik harus menyadari betul bahwa apa yang diterimanya itu harus sesuai dengan apa yang ia berikan. Seorang pendidik harus menyadari bahwa ia tidak boleh menuntut sesuatu yang tidak sesuai dengan kadar yang ia berikan.

Seorang pendidik harus mempunyai kualitas kesabaran, sebab dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik harus menghadapi berbagai godaan dan tantangan yang tidak mungkin ia lalui tanpa kesabaran.

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.